Hidayah Islam memang hadir dengan tidak terduga-duga. Ada yang melalui mimpi, ada juga dengan jalan lain seperti yang dialami oleh Bian Wahyudi (24), karyawan PT Unggul Tata Persada Tatkala iseng-iseng membuka Alqur’an, ayat yang pertama kali ia baca adalah surat Al Ikhlas. Tak lama kemudian, ia membuka lagi mushaf, tak sengaja Ia menemukan ayat yang berisi yang mengatakan Isa itu tuhan, maka kafirlah dia. Kini ia menjadi mualaf, bagaimana awal mulanya?.
Meski lahir di Surabaya, Bian Wahyudi pantas disebut keturunan China. Terlihat dari mata yang sipit dan wajah yang putih bersih, khas China. Kedua orangnya pun memilki darah China yang kental kendati ia tidak begitu tahu menahu tentang garis keturunan nenek moyangnya.
Lahir dari kultur keluarga penganut Katolik taat, minimal setiap pekan sekali Bian dan keluarganya beribadah di gereja. Warna Katolik makin kentara jika melihat bacground pendidikannya yang rata-rata berlatar berlakang Katolik, kecuali jenjang SMA yang waktu ia enyam di bangku sekolah umum. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Wijaya Kusuma (UWK) Surabaya ini mengatakan lingkungannya yang rata-rata kaum non muslim menjadikan dirinya tidak terbersit keinginan menjadi seorang Muslim. ”Pokoknya, waktu itu saya bertekad tidak akan masuk Islam. Siapa yang mempercai Yesus itu ada, maka ia akan selamat dan masuk surga,” kata Bian mengenang masa lalunya. Bian sama sekali tidak tertarik dengan Islam, disebabkan citra Islam yang cukup negatif seperti yang sering ia dengar dari khutbah-khutbah di gereja.
Namun, pada akhir tahun 2006, Bian merasa seolah-seolah ada yang menggiring dirinya untuk mempelajari agama Islam. Ia mencoba menahan diri untuk tidak melakukannya, namun hasilnya nihil. Yang terjadi, jutru tekad yang makin membara untuk mempelajari Islam lebih jauh. Tanpa sepengetahuan keluargannya, Bian diam-diam membeli Alquran terjemahan dan kemudia membacanya. Bagai sebuah mukjizat, ayat-ayat yang ia buka waktu itu selalu saja ayat yang mengkritik kebenaran agama Katolik seperti surat Al Ikhlas yang intinya berbunyi, Tuhan tidak beranak dan tidak diperanakkan. Ia membuka lembaran yang lain, yang terbaca justru peringatan lebih keras lagi, yakni siapa yang mengakui Isa putra maryam itu tuhan maka telah kafir (Al Maidah:72). Membaca ayat-ayat inilah, akhirnya saya tersadar, bahwa agama yang saya anut selama ini salah besar, saya mengakui bahwa Islam itulah agama yang benar,”kata pria yang berdomisili di kawasan Rungkut ini.
Di Katolik, konsep ketuhanan memang tidak logis. Tuhan yang jumlahnya tiga tapi substansinya tetap satu menjadikan Bian ragu-ragu akan kebenaran Katolik. Selain itu di Katolik kata Bian, tidak memiliki aturan—(syariat, red) yang sesempurna Islam. ”Jika akan berdoa, maka bisa mengarang sendiri sesuai dengan keinginan kita, di Islam kan sudah ada yang harus kita hafal. Di Islam, jika masuk rumah ibadah harus suci, namun Katolik tidak. Habis kencing, berak pun dengan bebas bisa beribadah di gereja. Ini kan aneh,” papar Bian meyakinkan.
Ironisnya dan yang membuat Bian makin mantap memeluk Islam, di Katolik tidak ada aturan bagaimana menjaga penampilan (aurat) yang sesuai jika beribadah. Banyak wanita, kata Bian yang ke gereja dengan menggunakan pakaian you can see. ”Masak kalau ketemu dengan presiden atau bupati saja sopan, berhadapan dengan tuhannya kok malah nggak sopan,” katanya sambil ketawa.
Dengan berbagai latar belakang itulah, tak lama kemudian, ia bersyahadat di masjid dekat rumah dengan di bimbing oleh takmir masjid setempat. Reaksi keluarga dan sahabat Bian pun beragam, ada yang menolak dan tidak sedikit yang bersikap sebaliknya. ”Keluarga sudah menilai bahwa saya sudah dewasa, jadi penolakan dari keluarga tidak begitu keras, Alhamdulillah, ” kata Bian. Apa target selanjutnya setelah masuk Islam? Target Bian pun tidak muluk, untuk sementara ini hanya berkeinginan untuk belajar ngaji hingga lancar dan sholat lima waktu dengan rutin, tidak bolong-bolong,”Ternyata awal-awal masuk Islam itu berat ya, sholat shubuh itu yang paling susah. Tapi saya akan terus belajar dan belajar, kebenaran sejati memang ada di Islam ”pungkasnya.[]
Rabu, 20 Februari 2008
Senin, 21 Januari 2008
Waspada dan Belajar Dari Kesalahan

Banjir Jatim pada awal tahun ini telah mendatangkan kerugian ratusan miliar rupiah. Kerugian ini terutama akibat terendamnya puluhan ribu hektare sawah, rusaknya infrastruktur, serta sarana danprasarana umum lainnya. Selain itu, terjangan banjiri di Jatim telah menelan puluhan korban tewas. Korban tewas akibat banjir ini tersebar di yang melanda 21 kabupaten/kota di Jatim dalam skala besar, sedang dan kecil.
Dan kini, tatkala penulis berkunjung ke salah satu lokasi korban Banjir di Desa Gedangan, kecamatan Maduran, Lamongan, pertanda pernah terjadi ada banjir besar masih cukup tampak. Bekas-bekas air dikaca beberapa bangunan hingga kini masih belum 100 persen bersih, sawah-sawah yang yang mati dan belum dikelola kembali juga menjadi bukti konkrit pernah terjadi musibah di tempat ini. Hanya saja, semangat untuk membangun perekonomian pasca banjir masih cukup tinggi. Para warga kembali berusaha agar asap dapurnya terus mengepul dengan membuat gentong, cowek, kendi dan handycraft khas daerah lainnya. Realitas ini sudah sepatutnya disyukuri semua pihak.
Banjir Jatim memang secara perlahan mulai surut dan aktivitas warganya juga dimulai kembali. Sekolah-sekolah sudah memulai kegiatan belajar-mengajar, intansi pemerintah sudah mulai bekerja dan kembali melayani masyarakat, dan yang terpenting pergerakan ekonomi sudah menuju kearah semula.
Lalu, apa yang segera dilakukan pasca banjir? Badan Meterologi dan Geofisika memperkirakan curah hujan masih akan tetap tinggi hingga medio Maret 2008. Dalam kondisi demikian, sikap waspada akan lahirnya banjir besar untuk kedua kalinya harus senantiasa ditingkatkan.
Kewapadaan akan datangnya banjir besar untuk kedua kali memang cukup wajar. Kenapa demikian? Tanpa bermaksud menakut-nakuti, banjir yang terjadi di pulau jawa penyebabnya utamanya adalah hutan yang semakin hancur dan hilangnya daerah resapan di pulau Jawa. Berapa sebetulnya sisa hutan di Pulau Jawa,ternyata ada perbedaan pendapat. Ada yang menyatakan hutan di Pulau Jawa tinggal 14%, ada yang bilang tinggal 10%, bahkan ada yang menyebut tinggal 4%. Satu hal, tak ada yang mengatakan hutan di Jawa tinggal 30%— batas minimum agar sebuah daerah aman dari bencana banjir dan longsor.
Pulau Jawa yang luasnya 13.404.500 hektare ini tengah menghadapi kondisi yang amat berbahaya karena daerah resapan dan hutan di Jawa kurang dari 10%—kalau tak mau dikatakan hanya 4% dari luas Pulau Jawa. Kerusakan lingkungan di Pulau Jawa bisa dilihat dari tutupan vegetasinya di berbagai lereng dan puncak-puncak gunung yang jadi sumber mata air sungai-sungai. Sebagian besar hutan di lereng, tebing, dan puncak gunung ditebangi. Lahan di pegunungan itu dipakai untuk perkebunan, vila, resor, dan tempat wisata. Berdasarkan data Badan Planologi Departemen Kehutanan,lahan kritis di Jawa saat ini sudah mencapai lebih dari 2.481.208 hektare. Sedangkan lahan yang tertutup pohon hanya tersisa 4%. (Alikodra:2008)
Jika tidak dikelola dengan benar, bukan mustahil pulau yang dikenal paling maju dari segi sumber daya manusia dari pulau-pulau lain di Indonesia akan selalu diintai oleh bencana alam terutama beberapa kawasan Daerah Aliran Sungai. Jawa akan tenggelam di musim hujan dan kering kerontang di musim kemarau. Kini, kekhawatiran seperti itu sudah mulai tampak dengan meluasnya banjir di Pulau Jawa pada awal 2008 ini .Dengan rasa cemas, kita pun sedang menanti tanah-tanah di Jawa yang merekah karena kekeringan dahsyat di musim kemarau kelak.
Jangan Menyalahkan
Banjir sudah berlalu dan saatnya kita memperbaiki sikap atas kemungkinan ---bukan berharap-----musibah-musibah lain yang akan datang. Ketika bencana datang, umumnya kita cenderung menyalahkan sesuatu atau seseorang misalnya menyalahkan pemerintah, penebang hutan diri sendiri, orang lain, pemerintah. Tak ada gunanya mencari-cari siapa yang salah ataupun menyalahkan siapa-siapa. Tindakan menyalahkan akan lebih membuat kita fokus pada kepedihan dan bencana yang kita hadapi. Yang lebih penting adalah fokus pada upaya mencari jalan keluar dari masalah ataupun bencana yang ada.
Belajar dari kesalahan dan memperbaiki kesalahan tersebut merupakan langkah yang baik ditengah musibah yang dialami. Misalnya, para korban banjir kita selama ini sadar bahwa kita sering membuang sampah sembarangan, bisa dimulai memperbaiki kesalahan dengan membuang sampah pada tempatnya atau menyediakan tempat sampah di beberapa titik di rumah. Jika kita merupakan bagian dari penebang hutan liar, maka alangkah sangat elok untuk mencari pekerjaan lain yang tidak merugikan orang lain, apalagi hingga menjadikan nyawa orang lain sebagai taruhannya. Jika kita merupakan bagian dari pemerintah, akan lebih baik dengan menerapkan sanksi yang keras dan tegas terhadap siapapun yang merusak lingkungan dan memberikan pelayanan yang memuaskan bagi para korban banjir. []
Kamis, 03 Januari 2008
Pengakuan Korban Kristenisasi
Sabtu (29/12) kemarin, LMI menggelar kegiatan peresmian Rumah Sehati. Salah satu rangkaian kegiatan tersebut adalah pemeriksaan kandungan dan kesehatan gratis untuk umum. Berbagai macam peristiwa menarik menghiasi acara yang selenggarakan di Jalan Bratang Gede I, Surabaya. Salah satu peristiwa yang menyita perhatian pengunjung adalah kehadiran Kristin, (50)yang notabene meruapkan non muslim.
Surabaya, pukul 10 pagi seorang pemuda tanggung lengkap dengan anting-anting dan topi lusuh yang dikenakannya sedang menuntun seorang ibu berkulit putih, bermata sipit menuju tempat registrasi pemeriksaan kesehatan kemarin. Dengan sepenuh hati dan sabar, pemuda itu mengantar hingga ke tempat pemeriksaan.
“Ada keluhan apa bu? Ada yang bisa kami bantu?” tanya dokter Rumah Sehati dengan ramah. Dengan segera ibu itu mejelaskan hal-hal yang dirasakan dalam tubuhnya. Ibu yang mengaku bernam Kristin (50) itu merasa sudah beberapa tahun terakhir ini penglihatannya kabur dan pendengarannya mulai berkurang. Mau berobat ke Rumah Sakit pun juga tidak ada uang sepeserpun. ” Berangkat dari rumah kesini aja tadi nggak bawa uang sama sekali,” kata Kristin.
Selain inderanya mengalami gangguan, Kristin yang pemeluk Katolik juga divonis menderita kencing manis yang hingga kini juga belum ada pengobatan serius dari pihak keluarganya. Pihak gereja yang selama beberapa tahun menngung biaya hidup dan pendidikan bagi anak-anaknya juga sudah memutus dan tidak menanggung biaya hidup keluarganya. Suami yang diandalkan untuk mencari nafkah pun juga sering sakit-sakitan. Praktis, pemasukan sehari-hari didapat dari anak nya yang berprofesi sebagai penjual bumbu pecel.
Korban Kristenisasi
Dalam perbincangannya dengan saya, Kristin mengaku pernah didatangi seorang Katolik dari gereja daerah Ngagel, Surabaya. ”Sebagai penjahit saya harus melayani siapapun dengan baik tidak terkecuali orang kristen,” ujar wanita yang hingga kini masih ber-KTP Islam ini.
Setelah kedatangan tamu Kristen tadi, lanjut Kristen dirinya ditawari untuk pengajuan beasisiwa bagi keenam putra-putrinya. Kristin pun mengajukan proposal ke pihak gereja agar segera mendapat bantuan. Oleh pihak gereja ternyata disambut baik dan siapa memberikan cairan biaya pendidikan asal rutin pergi ke gereja setiap minggu. ”Sejak saat itu saya mulai rutin ke gereja dan setelah itu langsung diadakan pembaptisan buat saya, saya resmi masuk kristen tapi tetap ber KTP Islam hingga sekarang,” tambah Kristin dengan sedikit mengeraskan suara. .
Dengan masuknya Kristin ke Katolik, suplai dana pendidikan ke anak bungsunya pun berjalan lancar hingga kurang lebih 10 tahun. Anak bungsunya, Rio pun mampu bersekolah hingg jenjang menengah atas Sebagai kompensasinya, Krisin harus rutin pergi ke gereja mengikuti misa kebaktian di gereja Logos, kawasan Ngagel Suarabaya.
Rio(17) anak bungsunya yang berada disampingnya pun membenarkan pernyataan ibunya tersebut. ”Dari SD, saya mendapat santunan dari gereja Logos, cukup besar memang hingga kelas dua SMA,”ujar Rio menegaskan.
Kala Rio memasuki kelas dua SMA, pihak gereja sedikit demi sedikit menunjukkan gelagat kurang menyenangkan. Gereja tanpa sepengetahuan Kristin dan keluarganya memutus secara sepihak kucuran biaya pendidikan Rio. Hal ini membuat, keluarga Rio collapse dan dengan berat hati, Rio harus meninggakan bangku sekolah saat dirinya masih kelas dua. ”Sejak pemutusan biaya sekolah itu, saya juga tidak lagi kembali ke gereja, saya juga nggak ngurus lagi pengajuan lagi,” ujar wanita kelahiran Jember ini.
Rio mengatakan, sejak putus sekolah ia bekerja sebagai penjaja koran dengan penghasilan yang cukup minimalis. Namun, itupun ternyata tidak bertahan lama. Disebabkan pertengkaran dengan kawan penjual koran lain, ia memilih berhenti sebagai penjual koran eceran dan hingga kini mash menganggur. ”Gara-gara rebutan pembeli akhrnya kita beradu mulut dan lebih baik saya mengalah,” ujar Rio.
Kemungkinan masuk Islam
Kristin pun kini goyah keimanannya. Dikatakan Kristen tidak pernah ke gereja dalam dua tahun terakhir. Dikatakan Islam pun juga tidak. Apakah 25 Desember kemarin merayakan natal? Kristin mengaku tidak merayakannya. Demikian halnya dengan Idul Fitri, ia tidak merayakannya sama sekali disebabkan tidak ada uang untuk merayakan. Ketika ditanya adakah niat untuk memeluk Islam Kristin mengiyakan. ”Iya, kemungkinan saya akan memeluk Islam,”ujarnya lirih.
Di akhir perbincangan, Kritin menanyakan banyak hal mengenai beasiswa untuk anaknya, Rio. Dia berharap Rio kembali bisa mengeyam bangku sekolah yang ditinggalkannya. ”Saya nggak ingin anak saya jadi orang nggak bener, ya... Paling tidak hingga lulus SMA saja lah. Ketika ditawari apakah punya keinginan melanjutkan ke perguruan tinggi, Rio mengelak dan lebih memilih hanya sampai SMA[]
Surabaya, pukul 10 pagi seorang pemuda tanggung lengkap dengan anting-anting dan topi lusuh yang dikenakannya sedang menuntun seorang ibu berkulit putih, bermata sipit menuju tempat registrasi pemeriksaan kesehatan kemarin. Dengan sepenuh hati dan sabar, pemuda itu mengantar hingga ke tempat pemeriksaan.
“Ada keluhan apa bu? Ada yang bisa kami bantu?” tanya dokter Rumah Sehati dengan ramah. Dengan segera ibu itu mejelaskan hal-hal yang dirasakan dalam tubuhnya. Ibu yang mengaku bernam Kristin (50) itu merasa sudah beberapa tahun terakhir ini penglihatannya kabur dan pendengarannya mulai berkurang. Mau berobat ke Rumah Sakit pun juga tidak ada uang sepeserpun. ” Berangkat dari rumah kesini aja tadi nggak bawa uang sama sekali,” kata Kristin.
Selain inderanya mengalami gangguan, Kristin yang pemeluk Katolik juga divonis menderita kencing manis yang hingga kini juga belum ada pengobatan serius dari pihak keluarganya. Pihak gereja yang selama beberapa tahun menngung biaya hidup dan pendidikan bagi anak-anaknya juga sudah memutus dan tidak menanggung biaya hidup keluarganya. Suami yang diandalkan untuk mencari nafkah pun juga sering sakit-sakitan. Praktis, pemasukan sehari-hari didapat dari anak nya yang berprofesi sebagai penjual bumbu pecel.
Korban Kristenisasi
Dalam perbincangannya dengan saya, Kristin mengaku pernah didatangi seorang Katolik dari gereja daerah Ngagel, Surabaya. ”Sebagai penjahit saya harus melayani siapapun dengan baik tidak terkecuali orang kristen,” ujar wanita yang hingga kini masih ber-KTP Islam ini.
Setelah kedatangan tamu Kristen tadi, lanjut Kristen dirinya ditawari untuk pengajuan beasisiwa bagi keenam putra-putrinya. Kristin pun mengajukan proposal ke pihak gereja agar segera mendapat bantuan. Oleh pihak gereja ternyata disambut baik dan siapa memberikan cairan biaya pendidikan asal rutin pergi ke gereja setiap minggu. ”Sejak saat itu saya mulai rutin ke gereja dan setelah itu langsung diadakan pembaptisan buat saya, saya resmi masuk kristen tapi tetap ber KTP Islam hingga sekarang,” tambah Kristin dengan sedikit mengeraskan suara. .
Dengan masuknya Kristin ke Katolik, suplai dana pendidikan ke anak bungsunya pun berjalan lancar hingga kurang lebih 10 tahun. Anak bungsunya, Rio pun mampu bersekolah hingg jenjang menengah atas Sebagai kompensasinya, Krisin harus rutin pergi ke gereja mengikuti misa kebaktian di gereja Logos, kawasan Ngagel Suarabaya.
Rio(17) anak bungsunya yang berada disampingnya pun membenarkan pernyataan ibunya tersebut. ”Dari SD, saya mendapat santunan dari gereja Logos, cukup besar memang hingga kelas dua SMA,”ujar Rio menegaskan.
Kala Rio memasuki kelas dua SMA, pihak gereja sedikit demi sedikit menunjukkan gelagat kurang menyenangkan. Gereja tanpa sepengetahuan Kristin dan keluarganya memutus secara sepihak kucuran biaya pendidikan Rio. Hal ini membuat, keluarga Rio collapse dan dengan berat hati, Rio harus meninggakan bangku sekolah saat dirinya masih kelas dua. ”Sejak pemutusan biaya sekolah itu, saya juga tidak lagi kembali ke gereja, saya juga nggak ngurus lagi pengajuan lagi,” ujar wanita kelahiran Jember ini.
Rio mengatakan, sejak putus sekolah ia bekerja sebagai penjaja koran dengan penghasilan yang cukup minimalis. Namun, itupun ternyata tidak bertahan lama. Disebabkan pertengkaran dengan kawan penjual koran lain, ia memilih berhenti sebagai penjual koran eceran dan hingga kini mash menganggur. ”Gara-gara rebutan pembeli akhrnya kita beradu mulut dan lebih baik saya mengalah,” ujar Rio.
Kemungkinan masuk Islam
Kristin pun kini goyah keimanannya. Dikatakan Kristen tidak pernah ke gereja dalam dua tahun terakhir. Dikatakan Islam pun juga tidak. Apakah 25 Desember kemarin merayakan natal? Kristin mengaku tidak merayakannya. Demikian halnya dengan Idul Fitri, ia tidak merayakannya sama sekali disebabkan tidak ada uang untuk merayakan. Ketika ditanya adakah niat untuk memeluk Islam Kristin mengiyakan. ”Iya, kemungkinan saya akan memeluk Islam,”ujarnya lirih.
Di akhir perbincangan, Kritin menanyakan banyak hal mengenai beasiswa untuk anaknya, Rio. Dia berharap Rio kembali bisa mengeyam bangku sekolah yang ditinggalkannya. ”Saya nggak ingin anak saya jadi orang nggak bener, ya... Paling tidak hingga lulus SMA saja lah. Ketika ditawari apakah punya keinginan melanjutkan ke perguruan tinggi, Rio mengelak dan lebih memilih hanya sampai SMA[]
Jumat, 28 Desember 2007
PKB Pejuang Kepentingan Islam???????
Harian Jawa Pos pekan lalu menurunkan berita bahwa PKB menurut Hasil survei Indo Barometer pimpinan M Qodari dipersepsikan paling memperjuangkan kepentingan Islam dengan 12,5% disusul PKS (5,2%), PPP (3,5%), dan PAN (3,4%). Satu hari setelah nya pengurus PKB menyambut gembira hasil survey tersebut. Effendi Chorie misalnya, dia mengatakan hasil survey tersebut memang benar.
Menurutnya, perjuangan keislaman PKB bukan bersifat simbiolis atau jargon-jargon saja, tapi substantif dan universal. Sayang sekali survey tersebut tiudak dijelaskan bentuk-bentuk pembelaan seperti apakah yang dimaksudkan. Betulkah demikian?
Hasil survey ini menurut saya sangat mengejutkan dan merupakan tamparan yang cukup terhadap parpol Islam yang ada. Pasalnya, PKB jelas-jelas bukan partai berasaskan Islam dan mengusung isu-isu kebangsaan yang jauh dari isu yang digulirkan oleh partai Islam yang lain seperti syariat Islam, piagam Jakarta dan bentuk perjuangan lainnya.
PKB, kendati didirikan oleh kalangan NU dan mengklaim sebagai anak kandung sah dari kaum nahdliyin dalam AD ART nya menyebutkan berasaskan Pancasila--lebih jauh mengaku berasas ahlussunah waj jamaah--- dan dalam visi misinya tampak kental nuansa membela kepentingan bangsa Negara bukan secara ekspiksit membela agama Islam seperti partai Islam lain. Bahkan, Ketua dewan syuro PKB, Gus Dur dalam beberapa peristiwa yang terkait dengan persolan keislaman serungkali bertolak belakang dengan kepentingan kaum muslimin.
Dalam kasus Tanjung Priok misalnya, Gus Dur lebih suka memilih untuk menyalahkan Amir Biki dan kawan-kawan daripada membela mereka. Kedua, pencabutan TAP MPR no 25/1066 tentang pelarangan oleh Gus Dur saat menjabat presiden juga berakibat perlawanan yang keras dari tidak hanya Parpol Islam melainkan juga sebagian kiai khos yang menjadi jujugan Gus Dur dalam menghadapi persolan bangsa. Ketiga, masih segar dalam ingatan pernyataan Gus dur mengenai Al Quran porno dan pembelaannya terhadap Paus Benediktus yang mendiskreditkan Islam. Keempat, dukukannya terhadap kelompok kontra RUU APP juga tidak sejalan dengan pernyataan mayoritas kaum muslimin yang terwakili dalam NU, Muhammadiyah dan ormas Islam lainnnya. Masih banyak banyak sebenarnya pernyataan Gus Dur yang justru tidak membela kepentingan Islam dan saya kira tidak cukup untuk ditulis disini.
Lalu kenapa PKB terpilih sebagai Parpol pembela kepantingan Islam. JIka merunut dari pernyataan Effendi yang menyatakan bahwa PKB mengusung nilai universal, bersifat substatif dan tidak simbolis maka tetap saja bisa diragukan. Peran yang bersifat universal dan Jika hanya mengusung nilai-nilai substansial saperti penegakan HAM, kebebasan berpendapat, dan toleransi antar umat beragama adalah perjuangan yang bagi saya kurang spesfik dan hampir semua partai memperjuangkan isu seperti itu. Oleh karenanya, tidak ada kekhususan PKB diberi label pejuang kepentingan Islam.
Hal-hal yang perlu dipertanyakan dari PKB adalah bagaimana dia menanggapi isu Palestina, kasus Ambon dan sejenisnya yang melibatkan secara langsung kaum muslimin. Dalam kasus palestina, PKB sama sekali tidak ada suara lantang dari jajaran PKB untuk menyurakan dukungan kemerdekaan. Malah, saat Gus dur menjabat presiden berencana membuka hubungan diplomatik dengan penjajah Palestina, Israel. Begitu pula dengan kasus AMbon.
Menyebut label pejuang kepentingan Islam seharusnya yang dijadikan sampel isu adalah peristiwa yang melibatkan kaum muslimin. bukan isu yang normatif dan umum. PKB saya rasa belum memperjuangkan kepoentingan Islam. Yang ada justru sering bersebarangan dengan keinginan mayoritas kaum muslimin. Partainya saja anti asas Islam bagaimana memperjuangkan kepentingan Islam.[]
Menurutnya, perjuangan keislaman PKB bukan bersifat simbiolis atau jargon-jargon saja, tapi substantif dan universal. Sayang sekali survey tersebut tiudak dijelaskan bentuk-bentuk pembelaan seperti apakah yang dimaksudkan. Betulkah demikian?
Hasil survey ini menurut saya sangat mengejutkan dan merupakan tamparan yang cukup terhadap parpol Islam yang ada. Pasalnya, PKB jelas-jelas bukan partai berasaskan Islam dan mengusung isu-isu kebangsaan yang jauh dari isu yang digulirkan oleh partai Islam yang lain seperti syariat Islam, piagam Jakarta dan bentuk perjuangan lainnya.
PKB, kendati didirikan oleh kalangan NU dan mengklaim sebagai anak kandung sah dari kaum nahdliyin dalam AD ART nya menyebutkan berasaskan Pancasila--lebih jauh mengaku berasas ahlussunah waj jamaah--- dan dalam visi misinya tampak kental nuansa membela kepentingan bangsa Negara bukan secara ekspiksit membela agama Islam seperti partai Islam lain. Bahkan, Ketua dewan syuro PKB, Gus Dur dalam beberapa peristiwa yang terkait dengan persolan keislaman serungkali bertolak belakang dengan kepentingan kaum muslimin.
Dalam kasus Tanjung Priok misalnya, Gus Dur lebih suka memilih untuk menyalahkan Amir Biki dan kawan-kawan daripada membela mereka. Kedua, pencabutan TAP MPR no 25/1066 tentang pelarangan oleh Gus Dur saat menjabat presiden juga berakibat perlawanan yang keras dari tidak hanya Parpol Islam melainkan juga sebagian kiai khos yang menjadi jujugan Gus Dur dalam menghadapi persolan bangsa. Ketiga, masih segar dalam ingatan pernyataan Gus dur mengenai Al Quran porno dan pembelaannya terhadap Paus Benediktus yang mendiskreditkan Islam. Keempat, dukukannya terhadap kelompok kontra RUU APP juga tidak sejalan dengan pernyataan mayoritas kaum muslimin yang terwakili dalam NU, Muhammadiyah dan ormas Islam lainnnya. Masih banyak banyak sebenarnya pernyataan Gus Dur yang justru tidak membela kepentingan Islam dan saya kira tidak cukup untuk ditulis disini.
Lalu kenapa PKB terpilih sebagai Parpol pembela kepantingan Islam. JIka merunut dari pernyataan Effendi yang menyatakan bahwa PKB mengusung nilai universal, bersifat substatif dan tidak simbolis maka tetap saja bisa diragukan. Peran yang bersifat universal dan Jika hanya mengusung nilai-nilai substansial saperti penegakan HAM, kebebasan berpendapat, dan toleransi antar umat beragama adalah perjuangan yang bagi saya kurang spesfik dan hampir semua partai memperjuangkan isu seperti itu. Oleh karenanya, tidak ada kekhususan PKB diberi label pejuang kepentingan Islam.
Hal-hal yang perlu dipertanyakan dari PKB adalah bagaimana dia menanggapi isu Palestina, kasus Ambon dan sejenisnya yang melibatkan secara langsung kaum muslimin. Dalam kasus palestina, PKB sama sekali tidak ada suara lantang dari jajaran PKB untuk menyurakan dukungan kemerdekaan. Malah, saat Gus dur menjabat presiden berencana membuka hubungan diplomatik dengan penjajah Palestina, Israel. Begitu pula dengan kasus AMbon.
Menyebut label pejuang kepentingan Islam seharusnya yang dijadikan sampel isu adalah peristiwa yang melibatkan kaum muslimin. bukan isu yang normatif dan umum. PKB saya rasa belum memperjuangkan kepoentingan Islam. Yang ada justru sering bersebarangan dengan keinginan mayoritas kaum muslimin. Partainya saja anti asas Islam bagaimana memperjuangkan kepentingan Islam.[]
Jumat, 07 Desember 2007
Prioritas PR Pada Lembaga Dakwah Kampus

Aulawiyat (prioritas) yang kita pahami dalam konteks da’wah, bukan memilih antara iman dan kufur, al-haq dengan yang al-bathil, antara halal dengan yang haram, antara yang lurus dengan yang menyimpang, atau antara berda’wah dengan tidak berda’wah. Karena dalam hal ini, sudah jelas bahwa keimanan adalah keharusan, sedangkan kekufuran harus ditolak, sebagaimana pernyataan Laa ilaaha illallah yang menolak semua tuhan-tuhan itu, kecuali Allah SWT. Begitu pula antara al-haq dengan al-bathil, al-haq adalah barisan yang harus kita ikuti, sedangkan al-bathil harus ditinggalkan. Dan seterusnya.
Aulawiyat di sini adalah dalam hal memilih satu atau sebagian dari sejumlah perkara yang halal. Lalu dari perkara-perkara halal tersebut, kita memilih mana yang afdhal dari yang mafdhul, mana yang “ashlah” dari yang sholih.
Dan yang perlu dipahami lagi, memilih sesuatu yang diprioritaskan bukan berarti meninggalkan atau membatalkan suatu pekerjaan yang baik demi untuk mengerjakan pekerjaan baik yang lain. Maksudnya adalah mendahulukan mana yang lebih tepat didahulukan, memberinya lebih banyak alokasi dan dukungan waktu, tenaga serta sarana lainnya yang diperlukan. Inilah ruang lingkup kita sebagai batasan kajian Manajemen Prioritas kita.
Public Relation (PR) atau kadang disebut dengan istilah Hubungan Masyarakat (humas) memiliki posisi yang sangat penting dalam sebuah organisasi, terutama bila organisasi tersebut sering berinteraksi dengan masyarakat luas. PR sangat menentukan perwajahan organisasi tersebut di mata masyarakat luas. Hal tersebut disebabkan karena PR-lah yang merupakan salah satu front liner penting dalam berkomunikasi dengan masyarakat.
PR menentukan kesan positif sebuah organisasi di mata masyarakat. Dan hubungan dengan masyarakat akan menentukan bagaimana organisasi tersebut bersosialisasi di tengah-tengah masyarakat. Dengan kata lain, PR juga berperan dalam membangun hubungan, khususnya hubungan komunikasi, antara organisasi dengan masyarakat luas. Untuk itu, di dalam sebuah PR sangat penting untuk bisa mengelola manajemen komunikasi.
Bila sebuah organisasi tidak memiliki PR, sebenarnya bukan tidak mungkin organisasi tersebut bisa menjalin hubungan komunikasi dengan masyarakat. Namun tanpa keberadaan PR, biasanya fungsi-fungsi hubungan masyarakat akan tidak terurus dengan baik, karena agenda-agenda organisasi begitu banyak. Akhirnya hal tersebut kadang kala menyebabkan terjadinya hubungan komunikasi yang kurang baik, bahkan bisa menyebabkan miscommunication dengan masyarakat. Oleh karena itulah keberadaan PR sangat dibutuhkan dalam hal spesialisasi mengurus hubungan dengan masyarakat luas.
Selain itu, kebutuhan akan keberadaan PR menjadi sangat penting di era informasi ini.
Di zaman sekarang, masyarakat luas sudah sangat mudah dalam mengakses informasi, baik itu dari televisi, koran, majalah, internet, radio, dan sebagainya. Namun informasi-informasi yang mereka dapatkan, tidak selalu merupakan informasi yang benar. Adakalanya masyarakat akan mendapatkan informasi yang keliru. Kalau dikaitkan dengan sebuah organisasi, maka informasi yang keliru itu bisa ditimbulkan karena organisasi tersebut tidak memiliki fungsi PR di dalamnya. Informasi yang keliru tersebut bisa timbul dari opini masyarakat ataupun dari pemberitaan media massa. Di sinilah sebuah organisasi sangat membutuhkan PR untuk mengcounter informasi-informasi keliru yang barangkali perlu diluruskan.
Counter Isu : LDK Eksklusif
Bagi sebuah Lembaga Dakwah Kampus (LDK), niscaya akan sangat membutuhkan fungsi PR ini di dalam tubuh organisasinya. Terutama bila sebuah LDK sudah memasuki fase/tahapan dimana LDK tersebut sudah mulai merambah untuk lebih intens berkomunikasi dengan masyarakat, khususnya masyarakat kampus. Ruang lingkup aktivitas LDK juga menuntut keberadaan PR, misalnya pada ruang lingkup amal da'awi (pembinaan dan syi'ar), amal khidami (pelayanan), amal ilamy (penerbitan), amal siyasi (perpolitikan), dan seterusnya. Tanpa keberadaan LDK, aktivitas LDK bisa jadi tidak banyak yang mengetahuinya. Jika demikian, maka tidak heran ada beberapa LDK yang dicap sebagai organisasi eksklusif.
Apalagi, sebuah LDK itu mengusung kata-kata "dakwah" di dalamnya. Dakwah itu pada dasarnya menyeru, menyampaikan. Maka komunikasi merupakan kebutuhan yang sangat urgen. Di dalam Al Qur'an sendiri banyak sekali ayat-ayat yang diawali dengan kata-kata: "Sampaikanlah...", atau dengan "Katakanlah...". Dengan demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa LDK membutuhkan PR yang professional dalam berkomunikasi.
Dan masih banyak lagi manfaat yang bisa didapatkan dari fungsi PR ini. Saking pentingnya PR, sudah banyak perusahaan bisnis yang membuat sistem informasi untuk mengelola kehumasan dengan para customernya. Sistem informasi yang berkaitan dengan ini biasanya disebut dengan CRM (Customer Relationship Management). Dan Untuk sebuah organisasi non-profit, kehumasan bisa juga dimanfaatkan untuk fund-raising, menjalin kerjasama, rekrutmen, dan sebagainya. Mau Mencoba ?
EURO 2008 Tanpa Inggris

Sebetulnya sangat telat untuk membahas persoalan ini. Namun, peritiwa ini begitu menyakitkan, mengecewakan dan membuat pikiranku sedikit error. Error buah dari ketidak percayaan, susah menerimi peristiwa tersebut. Saya kecewa jika mnedengar sebutan Inggris, England atau Angleteree (bahasa Perancis). Peritiwa apkah itu?
Tidak lain adalah kekalahan menyakitkan Inggris dari Kroasia pada perhelatan kualifikasi EURO 2008 di Austria dan Swiss bulan lalu. Inggris kalah 2-3 dari negeri pecahan Uni Soviet disaat hanya membutuhkan satu poin untuk lolos ke putaran final. Kala itu, Inggris memang bermain buruk dan buruk. Gol pertama Kroasia di menit 8 tercetak sepenuhnya kesalahan penjaga gawang debutan, Scott Carson. Ia gagal menahan tendangan jarak jauh Niko Kranjcar. Bola yang licin karena hujan lolos dari tangkapan Carson dan masuk ke gawang. Ironisnya ini adalah sentuhan pertama Carson dalam sebuah pertadingan internasional.
Belum hilang rasa gugup para pemain Inggris, , Kroasia kembali menambah keunggulan di menit 13. kali ini gol datang melalui Ivica Olic yang berdiri bebas menyambut umpan Eduardo di kotak penalti Inggris.
Di babak kedua, pelatih Steve McClaren mengandalkan pemain tua David Beckham untuk melancarkan suplai bola. Gol balasan Inggris datang dari penalti Frank Lampard menit 56 akibat pelanggaran terhadap Jermain Defoe.
Sedang gol balasan yang menyamakan kedudukan dihasilkan Peter Crouch menit 65 setelah menerima umpan dari David Beckham.
Namun gol Mladen Petric menit 77 memupus harapan Inggris ke putaran final. Menerioma umpan dari Eduardo di mulut penalti Inggris, Petric menendang bola yang gagal dijangkau oleh Carson
Itulah Inggris, apa boleh buat. Negeri Elizabeth yang mengkalim sebagai nenek moyang sepak bola itu harus gagal berlaga di ven bergengsi selama 13 tahun tak pernah gagal (terakhir gagal di Pila Dunia 1994).
Piala Eropa tanpa Beckham, Wayne Rooney, Frank Lampard, Michael Owen dan Steven Gerrard bagai sayur tanpa garam. Tidak ada hooligans yang fanatik dan selalu memberi warna berbeda di setiap ajang sepak bola dunia.
Tak Mental Juara
Sebagai salah satu dari jutaan pendukung Inggris, saya memilki beberapa analisis mengenai kegagalan Bekham dan kawan-kawan di kualifikasi Euro ini. Pertama, Inggris gagal karena terlalu dibesarkan media massa. Tidak hanya di Inggris, di Indonesia pun Inggris selalu menjadi bahan poembicaraan media Indonesia. Wajar memang, sebab liga Inggris merupakan liga terbaik didunia saat ini. Namun, efek negatifnya, Inggris menjadi besar kepala dan overconfidence dalam setiap pertandingannya. Hasilnya, Inggris gagal menang melawan Macedonia. Padahal siapapun tahun macedonia adalah tim kelas teri yang mungkin berada empat tingkat dibawah Inggris. Kedua, Kesalahan strategi Mclaren, pelatihnya. Saya tidak habis pikir, pertandingan penting dan partai hidup mati bagi Inggris justru diisi pemain-pemain cadangan dan minim pengalaman. Yang pailing menonjol adalah pilihan Mc laren memakai Carson sebagai starter, dua gol Kroasia merupakan buah dari blundernya. Ketiga, tak punya mental juara. Berbeda dengan tim besar lain seperti Jerman dan Itali, Inggris seolah sangat ketakutan untuk gagal. Ketika ketinggalan satu gol semuanya bingung dan permainan pun kocar-kacir. Berbeda dengan Jerman, Jerman merupakan tim dengan mental juara paling yahud sejak saya amati 10 tahun terakhir. Jerman selalu berjuang hingga menit terkahir. Tapi Inggris sebaliknya. Inggris kacangan, cemen dan payah jika menghadapi even penting. (bersambung)
Sentuhan Rabbani di Bukit Kapur

“Select operator”. Demikian pesan singkat yang saya terima dari handphone tatkala memasuki dusun Selang, Desa Jadi kecamatan Semanding, Tuban. Perintah untuk mencari jaringan atau sinyal hanphone tadi menggambarkan betapa sulitnya menjangkau dusun yang memiki 356 Kepala Keluarga ini. Dusun yang berlokasi pada jarak 10 km arah selatan Kota Tuban, ini memang jauh dari pusat keramaian kota. Sepanjang jalan yang kami susuri, pemandangan yang terlihat hanyalah bebatuan kapur yang cadas, pembagunan jalan aspal yang setengah hati alias tidak selesai, rumah-rumah yang letaknya berjauhan dan rata-rata terbuat dari anyaman bambu dengan langit-langit rumah yang berlubang.
“Kemarin baru saya ada puting beliung mas, beberapa rumah mengalami kerusakan, meski tidak begitu parah,wajar, sebab disini dataran tinggi,”ujar Toni,salah seorang pemuda setempat yang baru saja pulang dari Malaysia sebagai TKI ini. Hutan yang gundul tampaknya juga menjadi karakteristik tersendiri. Sepanjang mata memandang, tidak satupun ditemukan rimbunan pohon yang teduh, besar dan kokoh untuk menyerap hujan dan mencegah terjadinya tanah longsor. “Sejak saya kecil, hutan disini sudah mulai gundul, banyak penebangan liar,” tutur pengantin baru ini.
Saat mobil yang kami kendarai melewati rumah penduduk, para warga keluar rumah dan beberapa pasang mata menatap tajam kearah kami. Rasa penasaran tampak begitu nyata terlihat dari guratan wajah penduduk dusun. Kami pun berhenti sejenak di sebuah rumah penduduk guna mencari dimana gerangan ketua Takmir, Moh Ghazali. Tak lama kemudian Ghazali muncul dengan cangkul di pundaknya. “Ayo pak langsung ke rumah saya, maaf ini kotor semua,” tutur Ghazali dengan kesederhanaanya. Kami pun langsung menawari untuk berangkat bareng mobil. “Nggak usah, situ kok, deket,”kilahnya. Untuk ukuran warga desa setempat, jarak tempuh ”dekat” tenyata berbeda dengan kami. Jarak 1 km pun tenyata dianggap dekat meski menempuhnya dilakukan dengan berjalan kaki.
Ternak sapi merupakan hobby sekaligus prestise bagi warga dusun. Jika belum memiliki sapi, seolah ada yang kurang. Sepanjang jalan, rata-rata ada-3-4 sapi yang dipajang disamping dan belakang rumah. Hal tersebut dibenarkan oleh Ghazali, menurutnya sapi ibarat kendaraaan, “Yaa.. saya ini dulu juga ngempet (menahan diri) selama bertahun-tahun punya sapi, kita nabung hasil dari panen,”terangnya tanpa malu-malu.
Jadi merupakan desa yang cukup luas, terdiri dari 5 dusun. Dan puluhan RT/ RW. Di dusun Selang saja, karena luasnya wilayah, jumlah mushola mencapai tujuh buah dan satu masjd. Mata pencaharian, kata Ghozali 99,9 persen adalah petani jagung. “Jika musim kayak gini nandur (menanam) jagung, tebon (batang pohon) jagungnya digunakan untuk makan sapi,” ujar ghozali dengan jawa halusnya yang kental.
Tingkat pendidikan warga sini juga terbilang cukup rendah, rata-rata hanya sampai tingkat SMP. Selepas sekolah, umumnya langsung bekerja keluar kota dan beberapa ada juga yang nyantri di sejumlah pondok pesantren di Tuban. Tidak heran kegiatan keagamaaan cukup padat dan banyak peminatnya. “Selain Taman Pendidikan Al Quran (TPA), kita juga ada kegiatan talilan, pengajian dan lainnnya, rata-rata pengajar TPA disini adalah lulusan Ponpes,”ujar Ghozali yang juga koordinator pengajar TPA di dusun Selang ini.
Alumni Ponpes Assalam , Seren, Gebeng, Purworejo, Jawa Tengah ini menegaskan bahwa hanya satu pegawai negeri di dusun, sisanya petani dan kerja diluar kota. Saat ditanya apakah memilki hanphone, dengan sederhana ghozali mengatakan tidak perlu handphone. Begitu pula dengan sepeda motor, Ghazali lebih memilih jalan kaki daripada naik motor kendati jaraknya cukup jauh.
Hingga kini, kondisi masyarakat secara ekonomi tidak begitu bagus, namun keikhlasan warganya yang memiki prinsip kuat terhadap Islam menjadikan semua serba mudah. Keikhlasan inilah yang menjadikan jalan dakwah disini cukup lancer meski pada awalnya cukup terjal. Ironisnya, belum ada bantuan yang cukup untuk menanggulangi permasalahan mereka di sektor ekonomi. Tergugahkan anda melihat kondisi demikian? []
Langganan:
Postingan (Atom)