Kepada pewaris peradaban
Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan
Di lembar sejarah manusia
Syair Totalitas Perjuangan ini acapkali didengungkan mahasiswa tatkala berdemonstrasi di jalanan. Secara eksplisit, syair ini menujukkan bahwa kaum muda hampir selalu menjadi motor penggerak perubahan peradaban manusia dibelahan dunia manapun.
Demikian pula dengan keputusan Ketua Umum KNPI, Hasanuddin Yusuf mendirikan Partai Pemuda Indonesia (PPI) saya kira merupakan bagian dari iktikad dan ijtihad untuk menjadi motor perubahan ditengah permasalahan bangsa yang kian kompleks. Sebagai zoon politicon, manusia secara perorangan tidak akan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Manusia mesti berkumpul dalam komunitas,karena dengan inilah kata politik itu terlahir. Zoon Politicon ini kemudian berkembang dengan istilah ideolgy interest yang menganggap wajar hubungan organisasi pemuda sebagai ranah demokrasi mikro dengan Parpol sebagai ranah demokrasi makro.
Kekhawatiran sejumlah fungsionaris KNPI seperti akan terciptanya bias antara KNPI dan PPI, persolan etika organisasi, yang akhirnya berbuah ancaman dengan menggelar Kongres Luar Biasa untuk memilih ketua umum baru (JP,5/6/2007) merupakan tindakan berlebihan dan tidak proporsional.
Berdirinya PPI atas inisiatif ketua Umum KNPI merupakan hal yang wajar dan tidak perlu dianggap sebagai merusak tatanan KNPI. Kenapa demikian? Pertama, sudah tegas di dalam AD/ART KNPI bahwa tidak ada larangan sama sekali bagi semua kader KNPI termasuk ketua umum untuk menjadi pengurus partai politik.
Hal ini seyogyannya menjadi perhatian agar semua pihak menghormati keputusan bersama dan tidak membuat dalil baru sebagai pembenaran. Tidak adanya larangan tersebut bermakna bahwa Parpolbukanlah virus yang harus dihindari. Kedua, bukan rahasia lagi kalau ternyata KNPI memiliki hubungan yang sangat mesra dengan Parpol. Indikatornya, saat ini KNPI terdiri atas 70-an organisasi kepemudaan. Sembilan di antaranya adalah organisasi pemuda parpol dan ketua KNPI di daerah rata-rata adalah pengurus parpol. Demikian pula dengan OKP yang selama ini tergabung di KNPI seperti HMI, GMNI, dan PMII, Ketiga OKP ini tidak bisa dipungkiri memiliki kedekatan dengan Parpol tertentu.
Ini menunjukkan perselingkuhan politik antara KNPI dengan Parpol sudah terjalin begitu lamanya. Padahal, secara legal normatif KNPI bersifat independen. KNPI bukanlah underbouw dan mesin politik pemerintah dan parpol, KNPI adalah sebuah organisasi kepemudaan yang menghimpun semua kekuatan pemuda. Dengan demikian, rahasia hubungan KNPI dengan parpol harus dibuka dengan memberikan kebebasan anggota untuk aktif di Parpol sehingga tidak ada lagi kecemburuan satu sama lain. Namun, secara organisatoris KNPI harus tetap bebas dari kepentingan Parpol tertentu.
Ketiga, belum lama ini, seiring kegagalan pemerintah (baca:golongan tua) dalam mewujudkan agenda reformasi, banyak bermunculan parpol yang berbasis dan dilahirkan dari kalangan pemuda seperti Partai NKRI pimpinan Sys NS dengan mengusung jargon partai pemuda yang gaul dan fungky. Kemudian, selepas lengsernya Amien Rais menjadi ketua Umum PAN, elemen muda Muhammadiyah mendirikan Partai Matahari Bersatu (PMB) sebagai partai alternatif warga Muhammadiyah.
Fakta ini menggambarkan adanya kekecewaan kaum muda terhadap perkembangan bangsa terkahir yang kian memilukan. Dengan hadirnya Parpol berbasis pemuda, Dengan visi dan misi yang hampir sama, keinginan untuk mewujudkan agenda reformasi yang terbengkalai bukan sesuatu yang mustahil.
Politik Moral dan Kekuasaan
Selama ini, gerakan pemuda lebih dicitrakan sebagai gerakan moral yang mengusung nilai ideal, normatif yang berorientasi terciptanya nilai-nilai kebenaran, keadilan, humanisme profesionalitas dalam mengelola negara. Model gerakan pemuda terutama mahasiswa sebagai gerakan moral ini tidak mempedulikan siapa yang menjadi pemimpin. Model ini haram mendukung seseorang untuk menjadi pemimpin, tapi siapa pun pemimpin yang dzalim akan berhadapan dengan gerakan pemuda..
Seiring berkembangnya arus demokratisasi, tampilnya pemuda sebagai penggugah moral penguasa ternyata tidak begitu efektif dalam merubah kebijkan pemerintah. Demonstrasi di jalanan juga semakin tidak menarik lagi dan justru menjadi bahan cibiran karena tindakan yang terkadang anarkhis dan memacetkan arus lalu lintas.
Oleh karena itu, Fajroel Rachman menegaskan bahwa gerakan kaum muda seharusnya tidak berhenti sebagai gerakan moral dan gerakan menumbangkan rezim saja, tetapi juga harus merebut dan membangun kekuasaan. Tanpa kekuasaan, tidaklah mungkin untuk mewujudkan cita-cita politik.
Fajroel Rachman bahkan menyarankan sebagian pergerakan mahasiswa dan pemuda pada umumnya mendirikan partai politik dan menjadi bagian gerakan politik intraparlementer dengan terlibat dalam kancah politik formal.
Dengan demikian, anggota KNPI hendaknya diberi keleluasaan untuk mendirikan atau bergabung dengan Parpol. Yang lebih penting, secara institusional KNPI tetap sebagai organisasi independen.